Senin, 25 April 2016


Malam ini akan ku jadikan sebagai malam yang paling istimewa dan tidak akan pernah terlupakan. Aku berencana mengajak Seli untuk makan malam di suatu tempat yang sudah aku persiapkan se istimewa mungkin, aku sengaja tidak memberi tau dimana lokasinya, akan ku jadikan ini sebagai kejutan di Anniversery aku dan Seli yang ke 4 bulan.

“kita ada dimana sih? Udah jalan jauh ko ngga nyampe-nyampe” Seli penasaran. Matanya tertutup oleh sehelai kain.

“entar kamu juga tau kita dimana” jawab Yono

Mereka pun sampai di suatu tempat yang sudah Yono persiapkan.

“kita sudah sampai. Dalam hitungan ke tiga setelah aku buka ikatan kainnya kamu boleh buka mata, ingat jangan langsung buka mata, mengerti?” suruh Yono

“siap, tapi cepat aku sudah penasaran sebenarnya kita ada dimana?”

Yono membuka ikatan mata Seli “satu dua tiga”

Seli membuka mata dan terkujut melihat apa yang ada didepannya saat ini “aku ngga nyangka kamu bisa menyiapkan semua ini. aku ngga tau harus ngomong apa lagi”

“semua ini aku persiapkan untuk perayaan Anniversery 4 bulan kita. Kamu ingat kan?”

“tentu aku ingat dan aku tidak menyangka kamu nglakuin semua ini”

Kini mereka berdua menikmati indahnya malam yang dihiasi jutaan bintang yang berkilau disetiap detiknya. Bintang pun akan menjadi saksi hari jadi mereka yang ke-4 bulan. Yono dan Seli sangat menikmati makan malam ini, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

***

Ketika di jalan Yono tidak sengaja menabrak seorang cewe yang mungkin bagi Yono orang tersebut bukan siapa-siapa
“maaf ngga sengaja”
“loh Yono kan?”
Cewe tersebut mengenali Yono, namun Yono lupa dan tidak ingat dengan dia. Dia adalah Fitri temen Yono ketika ia SMP dulu, mereka berbincang dan mengenang masa lalu mereka. Tak jauh dari tempat mereka berbicara, Seli melihat Yono sedang mengobrol dengan seorang cewe yang tidak ia kenal. Seli langsung menghampiri mereka. Seli bukan tipe cewe yang cemburuan, seperti sekarang ketika Yono sedang mengobrol dengan cewe lain. Awalnya yono terkejut dengan datagnya Seli yang tiba-tiba, ia berfikir apakah Seli akan marah-marah sama seperti kebanyakan cewe lainnya. Dan ternyata dugaan Yono salah, justru Seli bersikap pada cewe tersebut dan mengajaknya untuk berkenalan.
“perkenalkan, gue Seli. Cewenya Yono. (menjulurkan tangan)”
“Fitri. Teman Yono ketika SMP” bals Fitri dengan tegas
“udah waktunya makan siang, kita bareng ajah yuk” ajak Seli
“terima kasih. Kebetulan aku mau ke perpustakan dulu ada buku yang mau gue cari. Kalau begitu gue duluan yah”
Yono bertanya kepada Seli, mengapa dia tidak cemburu melihat Yono akrab dengan Fitri. Apakah diaa sudah tidak menyukai dirinya lagi. Seli membantah, jelas dirinya bukan tipe orang yang cemburuan, apalagi dengan Fitri yang tidak lain adalah teman ketika Yono masih SMP.

***
Hari ini jadwal kuliahku dengan Seli berbeda, oleh karena itu aku tidak bisa pulang bareng dengannya, aku lebih dulu pulang. Awalnya aku akan menunggu Seli hingga ia jam kuliah berakhir, namun Seli menolaknya. Ia kasihan melihat aku yang harus menunggunya hingga larut malam, ia menyuruhku untuk pulang lebih dulu. Dengan berat hati aku pun pulang lebih dulu dan terpaksa harus meninggalkan Seli di kampus.
Ketika dalam perjalanan pulang, aku melihat Fitri yang sedang menunggu sesuatu aku pun segera menghampirinya.
“Fitri, sedang apa kamu disini?”
“gue sedang menunggu supir gue, tapi ko ngga datang-datang yah” jawab Fitri lemas
“bagaimana kalau aku antar kamu pulang, kebutulan rumah kita searahkan”
“makasih. Lebih baik aku nungguin supir gue ajah mungkin bentar lagi dia datang”
“terus kalau tidak datang juga bagaimana. Sudah kamu bareng aku saja”
Fitri pun menerima ajakan Yono
Duh ko aku deg-degan gini yah, kenceng banget lagi sama seperti ketika aku menembak Seli untuk pertma kalinya rasanya seperti ngga karuan begitu. Tiba-tiba Yono pun tidak fokus mengendarai sepeda motornya, dari arah berlawanan ada tukang baso yang sedang berkeliling, Yono pun hampir saja menabraknya jika Fitri tidak berteriak untuk mengingatkan Yono. Tanpa sadar Fitri pun memeluk tubuh Yono karena panik. Tukang bakso langsung memarahi Yono, karena hampir saja ia ditabrak oleh Yono. Yono segera meminta maaf kepada Tukang bakso tersebut. Yono pun menyuruh Fitri untuk melepaskan pelukannya, Fitri langsung melepaskan peukannya dari tubuh Yono dan ia pun merasa malu. Dalam hati Yono pun berkata
“gila cewe secantik Fitri tiba-tiba memeluk aku yang tidak ada angin tidak ada hujan, sepertinya aku harus berteria kasih kepada Tukang bakso tadi”

***
Berhubung waktu belum terlalu sore, aku memberanikan diri untuk mengajak Fitri jalan, dan entah kenapa Fitri pun kembali menerima ajakanku. Kebetulan hari ini ada film bagus yang konon katanya ceritanya sangat romatis sekali. Aku langsung membeli tiket untuk ku dan Fitri, kami pun langsung menonton film tersebut.
Setelah keluar dari bioskop, Fitri masih sedih dengan cerita film tadi. Maklum perasaan cewe jauh lebih dalam dibandingkan dengan cowo. Aku tidak tega melihatnya sedih terus seperti ini, aku ajak dia untuk jalan-jalan dan sambil mencari makan.
Waktu pun semakin malam. Setelah mencari makan, aku langsung mengantarkan Fitri untuk pulang. Ketika dijalan dan saat sedang lampu merah, Seli melihat Yono dan Fitri yang tepat berada didepannya. Seli mulai kesal dengan Yono, ia lebih memilih jalan dengan Fitri dibandingkan menjemput dirinya. Seli segera mengambil gambar mereka berdua sebgai bukti.

“awas ajah kamu, Yono rupanya kamu bermain-main dibelakangku”  kata Fitri kesal

***
Setelah mengantarkan Fitri pulang hingga ke rumahnya, Yono pun masih kefikiran dengan Fitri bahkan hingga dia sudah berada di dalam kamarnya.
Aku masih sajah kefikiran Fitri, dan hati ini pun masih sajah berdebar-debar. Rasanya sama persisi ketika aku mengajak jalan dengan Seli untuk pertama kalinya dan seperti ini lah rasanya ngga karuan dan susah untuk dijelaskan. Apa aku naksir sama Fitri? Hust aku mikir apa sih. Jelas-jelas aku ini masih cowony Seli dan sampai kapan pun masih tetap. Ya mungkin ini hanya perasaanku sebagai seorang teman terhadap Fitri yang sudah lama tidak bertemu.

***
Hari ini Seli menjakku untuk makan siang di tempat biasa dan ada sesuatu yang akan diomongin. Duh ko aku jadi penasaran yah apa yang akan diomongin oleh Seli. Kami memesan makanan seperti biasa, tiba-tiba Seli langsung ngomong serius denganku seperti aku akan diintrogasi sajah.
“untung sajah hari ini jadwal kuliah kita sama jadi kita bisa makan siang bareng, ngga kaya kemarin kamu pulang lebih dulu” ujar Seli dengan nada menyindir
“iah kamu benar sel”
“oh ya. Setelah pulang kulia kemarin kamu kemana, ko ngga ngabarin aku? Apa kamu langsung pulang?”
Dalam hati Yono “duh mati deh aku, kalau aku bilang kemarin aku jalan sama Fitri pasti Fitri marah banget. Aku juga lupa lagi kemarin ngga ngecharge hp jadi aku ngga bisa ngabarin Seli gara-gara hp-ku mati. Duh aku harus ngomong apa?”
“ko diam? Kenapa kamu kemarin ngga ngabarin aku, aku cemas takutnya kan kenapa-kenapa”
“kemarin batrei hp ku low jadi ngga sempat ngasih kabar ke kamu” jawab Yono gugup
“oh batreinya low, ok. oh ya tadi malem pas aku di jalan mau pulang aku ambil gambar ini, liat deh” (mengasihkan hp ke Yono)
Yono terkejut
Dalam hati Yono “mati deh aku. Kenapa Seli bisa dapet gambar ini, apa jangan-jangan Seli ngikutin aku. Ketahuan deh kalau tadi malam aku jalan sama Fitri”
“kenapa terkejut dengan gambar itu, aku ngga nyangka yah cowo sebaik dan sepolos kamu bisa-bisanya main dibelakangku”
“ngga sel, ini semua tidak seperti apa yang kamu lihat. Aku bisa jelasin semuanya”
“maksud kamu mata aku ini salah ngliat orang, udah jelas-jelas ada ada buktinya masih saja ngeles. Udah deh aku males ngladenin kamu” pergi
Menarik tangan Seli “aku bisa jelasin apa yang terjadi semalem”
“ apa lagi sih yang mau kamu jelasin Yon, semuanya sudah jelas. Lepasin tangan aku, aku bilang lepasin Yon. Aku ngga nyangka kamu bisa menyakiti perasaanku seperti ini. lepasin tangan aku, aku butuh sendiri” pergi
Melepaskan tangan Seli
Yono kesal
Kenapa bisa seperti ini, aku ngga bermaksud nyikitin perasaan kamu Sel. Huaahhh
Bersambung....



Kamis, 31 Desember 2015



2015
Tak terasa 2015 sudah di penghujung tahun dan besok kita akan bertemu dengan 2016. Selama satu tahun terakhir ini banyak banget yang sudah aku lalui. Tak selalu mulus, tapi banyak manisnya ngutip dari salah satu member idol grup

Padahal baru ajah kemarin merayakan pergantian tahun, eh sekarang akan melakukan hal yang sama seperti tahun kemarin. Seperti debu yang ditiup angin yang mana akan menghilang seketika.

Aku sadar di tahun 2015 ini banyak banget yang sudah aku lalui. Tawa, senang, bahagia, sedih, sakit hati, air mata sudah tak terhitung berapa kali aku keluarkan. Dan di tahun ini juga adalah penentu kemanakah masa depanku. Sungguh tahun ini memang berat.

Di awal tahun, aku harus menghadapi bagaimana menjadi seorang penulis naskah drama untuk pementasan drama sekolah. Sudah aku buat dengan semenarik mungkin, eh tak dipakai kecewa dan marah banget sih ya sudah mungkin ceritaku terlalu sulit. Try Out pertama yang mendebarkan namun dengan hasil yang memuaskan. Disusul dengan UAS, UJI KOMPETENSI dan Ujian Praktek yang tak kalah memuaskan.
Memasuki Try Out kedua, anjlok tuh hasil aku dalam menaklukan soal demi soal, mengecewakan sih apalagi melihat teman yang lain justru naik dari hasil Try Out awal, ya meskiupun turunnya hanya beberapa nilai.
Dan tiba saatnya, hasil belajar aku selama Tiga tahun mengenyam pendidikan tingkat Kejuruan ditentukan hanya dalam waktu Empat hari. Selama itu aku berjuang sekuat tenaga, berdoa dengan sungguh agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan keluarlah surat yang bertuliskan LULUS namun dengan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Kali ini jelas sangat mengecewakan, sepertinya usahaku untuk menaklukan soal UN kurang bergairah.

Lupakan UN. Namun ada yang lebih menyakitkan lagi selain hasil UN, bahkan masih terasa hingga sekarang mungkin hingga tahun depan, ialah PERPISAHAN. Jelas semua orang di dunia ini tidak akan sanggup dengan namanya perpisahan. Kenapa harus ada pertemuan jika diakhiri dengan perpisahan? Tiga tahun aku lalui bersama dengan teman satu kelasku, dari pertama kita bertemu yang dimana saat itu masih jaim-jaimnya, merasakan bersama panas perihnya pendidikan LPDDS-BASECAMPE, tawa bahagia bersama selama tiga tahun, itu semua akan berakhir dengan yang namanya perpisahan. Pada hari itu semua harapan, suka, duka berkumpul jadi satu dan di lambangkan dengan Mendali Orange Segi Lima. Dan di tengah-tengah acara, sebuah kejutan yang tidak akan pernah kami lupakan datang, yaitu salah satu teman sekelasku XII TOI 2  mendapatkan juara umum peringkat pertama selama semester terakhir. Jelas ini sangat mengejutkan bagi kami, yang dimana kelas kami selalu diremehkan dengan kelas lainnya terutama dalam hal akademik, padahal kenyataannya kelas kami bisa menjdi yang terbaik bahkan terbaik dari yang terbaik.

Dipertengahan tahun aku mengikuti tes untuk masuk diperguruan tinggi negeri. Sama halnya dengan UN, aku  harus berjuang dan belajar dengan sungguh-sungguh agar aku bisa ditrima. Banyak berdoa namun tetap hasilnya belum sesuai dengan apa yang kuharapakan, aku gagal dalam tes tersebut dan itu artinya tahun ini aku tidak berkesempatan untuk melanjutkan pendidikanku ke tingkat yang lebih tinggi. Ditahun ini juga, selain aku mencoba mengikuti tes masuk perguruan tinggi aku juga mengikuti tes untk masuk di perusahaan, jelas karena aku lulusan SMK yang siap untuk bekerja. Sudah banyak aku mengikuti tes di perusahaan, mulai dari yang didalam kota bahan unutk yang ditempatkan di luar kota. Dan hasilnya pun sama, tidak ada satu pun yang menerimaku, ya sudahlah mungkin ini belum rezekinya.

Suatu ketika aku coba-coba mengikuti tes untuk bekerja disalah satu perusahaan retail. Aku menaruh lamaran, dan sorenya aku dipanggl untuk tes tulis dan wawancara, dan tak pernah ku duga sebelumnya aku lolos dan berhak untuk mengikuti Treineing selama 10 hari. Apakah ini adalah awal masa depanku, entahalah pekerjaan ini akan ku jadikan sebagai batu loncatan dan titik awal dari masa depanku. Berhubung aku bekerja di perusahaan retail yang harus mau ditempatkan dimana saja, setelah lulus Treineing, aku langsung mendapatkan tugas untuk ditempatkan diluar kota tempat tinggalku. Ya mau tidak mau aku harus melaksanakannya, meskipun jaraknya jauh. Diawal-awal memang berat, setiap hari harus bolak-balik ke luar kota. Namun dengan berjalannya waktu aku mulai betah bekerja disana dengan orang-orang sana yang beda adat namun tetap seru.
Beberapa bulan aku bekerja diluar kota yang sudah betah nyaman disana, eh aku harus dipindah di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, ya meskipun ini merupakan keinginanku juga untuk pindah. Dan kepindahanku ini sepertinya salah strategi, hingga detik ini aku belum sepenuhnya merasa betah dan nyaman. Disana juga aku haru banyak-banyak bersabar dengan para senior-seniornya, banyak sekali rintangan dan cobaan yang haru aku lalui dtempat kerjaku yang ini, mulai dari yang masalah sepele hingga masalah yang harus mengeluarkan uang untuk menyelesaikannya. Akhir tahun yang berat dan banyak-banyak bersabar.

Seperti itulah perjalananku dari awal tahun hingga sekarang yang sudah dipenghujung tahun. Semuanya adalah usaha kita dan perjuangan kita, meskipun tahun ini tahun yang berat. Apapun hasilnya, hargailah karena semua itu adalah usaha dan kerja keras kita.

Harapan


Tentu, semua orang pasti mempunyai mimpi dan harapan. Dan di tahun 2016 yakinlah kita bisa melampaui diri kita bahwa kita bisa mewujudkan mimpi kita dengan jerih payah dan usaha kita sesuai dengan apa yang kita bisa. Dan percayalah kegagalan hari ini adalah kesuksesan hari esok.

Selasa, 15 Desember 2015


Cerita ini dimulai ketika kami telah menyelesaikan ujian akhir semester yang akan menjadi ujian akhir semester kami karena semester depan sudah tidak ada lagi ujian tersebut. Sepuluh hari kami lalui untuk menyelesaikan ujian tersebut, kami juga harus merelakan waktu kami untuk memahami materi demi materi yang sudah diajarkan oleh guru kami yang hanya lebih kurang dua bulan kami menerimanya. Entah apakah dua bulan adalah waktu yang cukup untuk memahami materi yang begitu menumpuk seperti gunung, tetap mau tidak mau kami harus memahaminya. Setelah sepuluh hari kami melewati panas, perih, pusing hingga otak mengebul, akhrinya ujian akhir semester selsai juga.
Beberapa hari setelahnya aku mempunyai rencana  untuk membayar perjuangan kami dalam ujian akhir semester, rencana yang akan menguji seberapa besar kekompakan persahabatan kita. Dan setelah aku memberitahu rencana tersebut kepada semuanya, cukup banyak yang merespon rencanaku ini, aku yakin rencana ini akan berjalan dengan sukses. Namun apa sih sebenarnya recananya? Adalah sebuah perjalanan sederhana, menusuri sebuah bukit yang akan menjadi saksi seberapa besar persahabatan kita.
Matahari mulai menampakan diri dan mulai melaksanakan tugasnya, hari yang cerah ini akan sangat bermakna dan berkesan untuk aku dan kita semua. Setelah semuanya kumpul, kami berdoa semoga perjalanan ini lancar, sukses dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami langsung menuju ke lokasi dangan menaiki angkutan umum, entah karena saking asiknya kami mengobrol dimobil, kami kelewatan dengan lokasi tempat turun kami yang jaraknya cukup jauh, alhasil kami harus berjalan kaki untuk sampai di tempat tujuan.
Setelah sampai ditempat tujuan, kami langsung bersiap-siap agar sampai ke bukit tujuan kami. Awal perjalanan, kami melewati pemukiman penduduk setempat, setelah itu kami langsung melewati persawahan yang cukup luas. Di awal perjalanan kami juga harus menaiki lahan yang ditanami singkong, kacang dsb, awal yang melelahkan. Setelah sampai di atas, kami terbayar akan pemandangan yang begitu luar biasa, melihat sebuah perusahaan dari tempat yang tinggi semuanya terlihat sangat jelas. Namun perjalanan kami belum berakhir sampai sini, ini masih awal untuk menuju bukit yang akan kami tuju. Dari titik atas, kami harus turun untuk menuju jalan utama ke bukit tersebut. Tidak mudah untuk kami turun, tanahnya penuh batu dan sangat curam, jika sedikit saja kami tidak hati-hati maka akan langsung tergelincir kebawah. Seperti aku, padahal aku sangat hati-hati menuruninya, bahkan aku lebih memilih jongkok untuk turun, namun tetap aku tergelincir hingga sampai bawah. Yang lainnya pun ada yang lebih memilih menuruninya dengan cara lari dengan cepat, ada juga yang dari atas hingga bawah jongkok, perjuangan yang penuh kerja keras.
Setelah semuanya turun kami langsung berjalan menusuri jalan utama. Ditengah perjalanan kami terpisah, beberapa dari kami yang berjalan dibarisan belakang menuju jalan yang salah, alhasih salah satu dari kami harus menjemputnya. kami juga menelfonnya, namun karena sinyal yang lemah, komunikasi ditelfon pun tidak jelas. Sambil menunggu teman kami yang terpisah, kami beristirahat sejenak melepas penat. Ini belum setengah dari perjalan kami menuju bukit, padahal tenaga kami sudah terkuras habis. Banyak juga dari kami yang ingin mengakhiri perjalanan ini karena sudah tidak sanggup berjalan. Aku tidak mau mereka berhenti sampai sini, ini masih awal masih panjang perjalanan kita untuk sampai di bukit yang kita rencanakan. Aku meminta kepada mereka agar tidak berhenti sampai sini, jika berhenti kasihan yang sangat bersemangat untuk sampai puncak bukit yang  mungkin ini adalah terakhir kalinya kita semua kesini. Akhrinya mereka pun mau dan ingin melanjutkan perjalan ini hingga puncak bukit.
Beberapa teman kami yang tadi terpisah akhirnya bisa bertemu dangan kami lagi, mereka salah jalan hingga bisa terpisah seperti ini. mereka langsung beristirahat dan memakan makanan yang mereka bawa. Segera kami melanjutkan perjalanan,  dan kali ini mereka yang tai salah jalan memilih untuk berada dibarisan depan agar tidak salah jalan lagi. Diperjalanan pun kami bersanda gurau dengan yang lainnya, tak lupa juga kami berfotoria bahkan hingga setiap langkah. Rasa capek dan lelah perlahan hilang dengan kecerian dan tawa dari bibir yang kami keluarkan, dengan seperti ini perjalanan jauh pun tidak terasa.
Waktu menunjukan dua belas lebih, artinya dzuhur pun tiba dan saat itu pun kami tiba di musholah di suatu desa. Kami semua beristirahat meluruskan kaki dan melepaskan penat, air es pun menemani istirahat ini yang kebetulan ada warung yang dekat dengan masjid tersebut.ada juga yang membasuh tubuh mereka dikamar mandi musholah agar terlihat lebih segar. Musholah yang kami singgahi ini menandakan kalau kita sudah setengah perjalanan untuk mencapai puncak bukit yang kami rencanakan. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami melihat sebuah menara yang dari bawah terlihat sangat kecil, disanalah tujuan utama kami. Sangat jau memang, tapi dengan nekad dan semangat empat lima kami, kami yakin bisa sampai ke atas sana.
Kami segera melanjutkan perjalan agar ketika sampai di puncak tidak terlalu sore. Dan ini lah perjalanan yang sesungguhnya, menaiki sebuah bukit dengan bermodalkan tekad dan kebersamaan yang kami punya. Kami tiba di warung ditengah-tengah bukit, kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Pada salah satu pohon terdapat papan yang bertuliskan puncak cupang beberapa meter lagi, aku tidak ingat jelas berapa tepatnya. Setelah semua selesai istirahat, kami segera melanjutkan perjalan yang mana kali ini rutenya adalah menaiki anak tangga yang tidak tau seberapa banyak anak tangganya.  Desah nafas kami semakin kencang dan tidak beraturan menandakan apakah kami sudah tidak kuat untuk menaikinya, terkadang aku juga berhenti sejenak karena tidak kuat menaiki anak tangga ini. ditengah perjalan menaiki anak tangga, kami bertemu dengan anak-anak perempuan yang kalau dari penampilannya terlihat masih SMP, mulai deh para cowo mengelarkan virus modusnya. Aku dan yang lainnya menghiraukan mereka dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Aku melihat kebelakang, hanya ada aku dan dua teman lain dan satu orang berada didepanku, kemanakah yang lainnya? Apakah mereka berhenti ditengah jalan? Jujur aku juga sudah tidak sanggup untuk menaiki anak tangga tersebut, jikalau aku tidak ingin menjadi orang pertama yang sampai di puncak bukit mungkin aku akan mengikuti seperti mereka yang masih dibelakang. Nafasku dan kaki sudah taidak sanggup untuk melangkah, pikiranku punsudah tidak sanggup, mungkin ini juga dirasakan oleh yang lain. Dan pada akihrnya, setelah perjalan yang sangat panjang, panas, perih, capek, lelah, sampailah pada anak tangga yang terakhir dengan rasa lelah yang bercampur dengan senang. Sebelum aku sampai diatas, dua teman ku pun sudah tiba terlelbih dahulu, setelah itu aku dan yang lainnya menyusul.
Lelah, capek, panas, perihh semuanya terbayar ketika kami semua menginjakkan kaki di puncak bukit yang kami rencanakan. Dari atas sini semua terlihat sangat jelas. Jika di musholah yang tadi kami singgah untuk beristirahat melihat menara, maka dari atas sini kami berdiri disebelah menara  melihat musholah tersebut. Pemandangan karya Tuhan Yang Maha Esa pun sangat luar biasa dan sangat indah karena di depan mata kami melihat dua bukit yang berdekatan yang sangat indah dan luar biasa, tempat awal yang tadi kami kelewatan pun terliht dari atas sini. Terbayar sudah perjuangan kami agar bisa sampai diatas sini dengan pemandangan yang sangat luar biasa dan udara yang masih segar yang jauh dari asap kendaraan.
Akhirnya perjalanan kami agar bisa sampai di bukit ini tercapai juga. Yang dimana, ketika di awal-awal perjalanan ada yang tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, dan ada juga yang tersesat, namun semua itu terbayar sudah ketika kami sudah sampai di atas sini.
Karena persahabatan itu bukan dengan harta ataupun materi melainkan dengan kebersamaan dan kekompakan kita untuk mencapai satu tujuan seperti halnya perjalanan ini.


Selasa, 03 November 2015

Ini kisah tentang dua orang sahabat yang sejak kecil mereka bersama namun setelah dewasa mereka harus dipisahkan oleh mimpi masing-masing. 
Namanya Vano, seorang anak yang terlahir dari keluarga yang mempunyai segalanya. Ia adalah anak dari pengusaha batubara yang terkenal dari Kalimantan. Walau ia adalah anak dari seorang pengusaha namun dia tetap hidup mandiri yang tidak seperti anak pengusaha lainnya. Vano mempunyai seorang sahabat, yang sejak kecil mereka sudah bersama bahkan ketika mereka dilahirkan pun berbarengan dihari dan tempat yang sama.
Namanya Iyan, ia adalah sahabat Vano sejak kecil. Ayah Ian bekerja pada orang tua Vano, tak heran kalau mereka berteman sejak kecil. Meskipun ayah Iyan bekerja pada orang tua Vano bukan berarti kehidupan Iyan bisa dikatakan layak, tak jarang mereka harus berhutang kepada keluarga Vano demi mencukupi kehidupan sehari-hari. 
***
Hari ini merupakan hari pertama Vano dan Iyan sekolah disalah satu SMA ternama di tempat mereka tinggal. Awalnya orang tua Iyan tidak menyetujui anaknya untuk bersekolah disekolahan tersebut sekalipun Iyan mendapatkan beasiswa dari SMP nya untuk melanjutkan ke sekolah tersebut, berkat ajakan dan keinginan Iyan untuk bersekolah sesuai dengan harapan dia, akhirnya orang tua Iyan menyetujuinya.

"akhirnya kita bisa satu sekolah lagi. aku takut kalau kita tidak bisa bareng satu sekolah lagi, pasti hidupku tidak karuan" seru Vano
"hustt ngga boleh bilang kaya gitu, walau tanpa aku kamu juga harus tetap semangat no" jawab Iyan

Ketika Iyan sedang menuju kantin, tiba-tiba siswa lain membicarakannya secara diam-diam bahkan ada yang secara langsung mengejeknya karena orang seperti Iyan tidak pantas untuk bersekolah di sekolah elit seperti itu. Iyan diledek dan dicaci maki oleh para siswa, namun dia tetap kuat dan sabar ini sudah menjadi resiko ia bersekolah di sekolah tersebut, dan datanglah Vano yang menghentikan kerisuhan tersebut, ia segera membela Iyan.

"jangan karena dia anak beasiswa disini terus kalian bisa menghina seenaknya begitu, kalian salah justru dia adalah anak yang istimewa dia pintar, baik hati, dan mandiri. Tidak seperti kalian egois, manja, ngga punya hati, kalian ngga ada apa-apa nya dibanding dia" ketus Iyan menghentikan kerisuhan, dan para siswa pun langsung bubar dan kembali ke kelas masing-masing.

"terimakasih yah no, lagi-lagi kamu menolongku. Kamu memang sahabat terbaikku" balas Iyan

Tiga tahun kemudian

Tahun ini merupakan semester terakhir Vano dan Iyan bersekolah, mereka berdua beserta siswa yang lainnya harus berjuang demi lulus dan mendapatkan hasil yang terbaik di Ujian Nasional nanti. Tahun ini juga, kebersamaan yang terjalin tiga tahun lamanya akan segera  berakhir dan tidak akan terlihat kembali, namun apakah itu berlaku bagi Vano dan Iyan yang sejak kecil mereka bersama?

Ayah Vano sudah memikirkan kemana putranya akan melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi, beliau akan memberikan sebuah kejutan untuk Vano dan juga sahabatnya Iyan setelah makan malam nanti. Sebuah makan malam yang cukup besar akan diadakan oleh keluarga Vano dikediamannya, mereka juga mengundang keluarga Iyan untuk makan malam. Setelah semua selesai makan malam dan seluruh anggota keluarga pun hadir, segeralah Pak Akbar ayah Vano memberikan sebuah kejutan untuk putranya, kejutan yang mungkin tidak akan terbayangkan olehnya.

"berhubung semuanya sudah berkumpul dan makan malam pun telah selesai, langsung saja saya akan memberikan sebuah kejutan untuk putra saya. Putra saya, Alvano Mariano Akbar adalah penerus perusahaan pertambangan Akbar grup, dan pada tahun ini ia akan menyelesaikan SMA nya, dan saya sudah memilih Universitas terbaik untuk dia. Tak lupa juga dengan Iyan Nugroho sahabat Vano sejak kecil, ia juga akan berkuliah di Universitas yang sama dengan Vano" 

Semua orang terkejut dan bergembira mendengarkan sebuah kejutan yang dilontarkan oleh ayah Vano, terutama Vano dan Iyan. Pertanyaan mereka selama ini terjawab sudah apakah mereka akan berkuliah bersama atau mereka akan berpisah untuk waktu yang lama. Kejutan ini sengaja Pak Akbar berikan untuk Vano dan Iyan, karena beliau tidak ingin persahabatan mereka terpisah. Orang tua Iyan juga tidak menyangka bahwa Pak Akbar akan memberikan segitunya untuk anak mereka, mereka sangat berterima kasih kepada Pak Akbar yang ingin membiayai pendidikan kuliah anak mereka.

***
Setelah mereka lulus Ujian Nasional dan Iyan mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya, orang tua Iyan sangat bangga dengannya, karena ia bisa memperoleh predikat nilai tertinggi di sekolahnya. 
Pak Akbar segera menggelar acara syukuran untuk putranya beserta Iyan atas keberhasilanya dalam Ujian Nasional. Tiba-tiba sebuah kabar yang tidak mengenakan pun datang. Kabar yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh mereka berdua. Terdengar suara Handpone Pak Abar berbunyi dari salah satu clientnya, ia segera pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Melihat sang Ayah mengendap-ngendap seperti itu, Vano langsung curiga ada apa dengan Ayahnya, ia segera mengikutinya.

"Hallo" Pak Akbar menjawabnya, dan tiba-tiba Pak Akbar terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh clientnya.
"kenapa Ayah terkejut seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi" Vano penasaran
"jadi perusahaan yang ada di Amerika sedang mengalami masalah yang besar dan saya harus kesana" ketus Pak Akbar
Vano terkejut
"baiklah tolong siapkan tiga tiket untuk keberangkatan saya" metutup pembicaraan
Vano menghampiri Ayahnya. 
"apa maksud Ayah siapkan tiga tiket, ayah mau bawa Vano dan mamah ke Amerika? Ngga, Vano ngga mau" ketus Vano. Pak Akbar menjelaskan bahwa perusahaan yang ada di Amerika sedang mengalami masalah yang sangat besar, dan harus ia yang menanganinya sendiri yang mengharuskan keluarganya pindah ke Amerika untuk waktu yang cukup lama. 
"lalu gimana dengan kuliah Vano, Vano ngga mau kuliah disana dan jika itu terjadi itu artinya Vano harus berpisah dengan Iyan. Mana janji ayah yang katanya akan memberikan yang terbaik untuk Vano dan Iyan" ketus Vano dan pergi meninggalkannya.
Setelah acara syukuran selsai, Pak Akbar mencoba membicarakan masalah ini dengan baik-baik. Bu Akbar pun terkejut setelah mendengar apa yang dibicarakan oleh suaminya, jelas ini memang berat untuk Vano yang harus menerima akibatnya, bahwa ia akan berpisah dengan Iyan.

***
Hari ini merupakan hari terakhir vano bertemu dengan Iyan. Vano sangat kecewa sekali dengan ayahnya, namun apa boleh buat, ia pun harus menuruti apa yang sudah dikehendaki oleh ayahnya. Sebelum Vano berpisah dengan Iyan, ia berjanji selama ia berada di negeri orang ia akan selalu mengasih kabar ke Iyan beserta keluarganya.
Persahabatan yang sudah mereka jalin sejak kecil bahkan sejak mereka lahir, harus berakhir dengan tangisan perpisahan serta impian dan cita-citalah yang memisahkan mereka. Namun perpisahan ini bukanlah akhir dari persahabatan mereka, ini adalah awal untuk mereka agar menjadi orang yang lebih baik dari sekarang tanpa adanya seorang sahabat disampingnya. Dan mereka berjanji, suatu hari nanti mereka akan bertemu dengan membawa hasil jerih payah mereka selama mereka mengejar mimpi masing-masing.


 Tamat